Jadi fungsi diutusnya para Nabiyullah ‘alaihimus-salam bukan
hanya sebagai mubasysyiriin (pembawa kabar gembira) adanya surga
di akhirat bagi hamba-hamba Allah سبحانه و تعالى yang taat kepada Nabi dan Kitabullah yang
dibawanya.
Bukan hanya sebagai munzhiriin (pemberi peringatan)
akan adanya neraka di akhirat bagi hamba-hamba Allah سبحانه و تعالى yang
mengingkari Nabi dan Kitabullah yang dibawanya. Tetapi sebagai pemberi
keputusan dalam berbagai perkara yang diperselisihkan oleh manusia. Dan
keputusan yang diberikan para Nabi berlandaskan atau berpedoman kepada
Kitabullah yang diturunkan Allah سبحانه و تعالى kepada para Nabiyullah
tadi. Jika masyarakat mentaati keputusan tersebut maka mereka akan tetap
menjadi ummat yang satu, tidak bercerai-berai, apalagi saling
berbunuhan. Tapi jika masyarakat mengingkari keputusan berdasarkan
Kitabullah yang diputuskan oleh Nabi, maka mereka bakal hidup sengsara,
baik di dunia apalagi di akhirat.
Setiap orang diciptakan Allah سبحانه و تعالى ke muka
bumi dengan karakter diri masing-masing yang berbeda-beda. Ada orang
yang cenderung penyabar ada pula yang cenderung pemarah. Ada orang yang
cenderung dermawan ada yang cenderung bakhil. Ada yang cenderung pandai
bersyukur ada yang cenderung mudah berkeluh-kesah. Ada yang cenderung
pemikir ada yang cenderung perasa. Inilah keaneka-ragaman yang biasa
disebut
individual differences (perbedaan individual).
Kemudian setiap orang dengan
individual differences tadi hidup
di dunia dalam realitasnya masing-masing yang juga berbeda-beda.
Interaksi antara perbedaan individual dengan aneka realitas itulah yang
membuat hidup di dunia menjadi dinamis dan terkadang menimbulkan
berbagai gesekan bahkan konflik.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya
masing-masing". (QS Al-Isra 84)
Seringkali kepentingan setiap individu berbenturan dengan kepentingan
individu lainnya. Inilah yang kemudian menimbulkan konflik. Tetapi
sebenarnya ada jalan supaya konflik tidak berkembang sampai menjadi
perang dimana manusia menjadi saling berbunuhan satu sama lain. Dan
inilah rahasianya mengapa Allah سبحانه و تعالى mengirim para
Nabi-NabiNya dari masa ke masa. Agar para Nabi tersebut menjadi hakim
yang memutuskan perkara dengan adil berdasarkan Kitabullah yang mereka
terima.
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ
النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ
وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan),
maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar,
untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan.” (QS Al-Baqarah 213)
Lalu setelah terputusnya rantai pengiriman para Nabi bagaimana
manusia menyelesaikan perselisihan di antara mereka? Nabi Akhir Zaman
telah diutus, yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Berarti tidak
bakal ada lagi Nabiyullah yang diutus ke muka bumi dengan membawa
Kitabullah baru. Lalu bagaimana manusia menyelesaikan berbagai
perselisihan yang muncul sesudah wafatnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و
سلم ?
Di sinilah letak keistimewaan
dienullah Al-Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Tidak sebagaimana Nabi-Nabi
terdahulu yang setiap diutus Allah سبحانه و تعالى senantiasa
mengisyaratkan bakal datangnya Nabi berikutnya untuk menyempurnakan
agama Allah سبحانه و تعالى. Maka kehadiran Nabi Muhammad صلى الله عليه و
سلم dengan Kitabullah Al-Qur’anul Karim menandakan telah sempurnanya
proyek Risalah yang telah berlangsung sepanjang sejarah kemanusiaan.
Tidak lama lagi dunia akan berakhir. Tibalah Yaumul Qiyamah.
Artinya, dengan selesainya penyampaian wahyu Kitabullah Al-Qur’an
telah sempurnalah ajaran Allah سبحانه و تعالى bagi ummat manusia hingga
datangnya hari kiamat. Manusia tidak sepantasnya berfikir mencari-cari
ajaran selain Al-Qur’an untuk menyelesaikan berbagai perselisihan yang
muncul. Bahkan Allah سبحانه و تعالى menegaskan bahwa kaum kafirpun sudah
putus harapan untuk dapat menandingi apalagi mengungguli agama Allah
Al-Islam yang sudah sempurna itu.
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ
فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk
(mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah 3)
Masalah muncul ketika mayoritas manusia meragukan bahkan mengingkari
kesempurnaan Islam yang dibawa Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Jika
yang meragukan adalah kaum kafir, kita tentu dapat memakluminya. Tetapi
di era penuh fitnah dewasa ini, kita bahkan menyaksikan bahwa yang turut
meragukan bahkan mengingkari kesempurnaan dienullah Islam meliputi
mereka yang mengaku dirinya kaum muslimin juga. Sehingga kita dipaksa
menyaksikan dan mendengar statement dari tokoh Islam, yang berkata
misalnya:
“Ajaran founding-father bangsa kita ini sejalan dengan
Islam. Maka kita tidak perlu mempertentangkannya dengan Islam.”
Atau misalnya kita mendengar ungkapan seorang
muslim-defitis
(muslim bermental pecundang) yang berkata:
“Kalau kita paksakan Islam
kepada seluruh masyarakat ini tentunya kita menjadi kaum yang zalim.
Sebab tidak semua orang di negeri kita adalah muslim. Oleh karenanya
kita jadikan ajaran nenek-moyang kita sebagai platform yang disepakati
bersama, sekedar sebagai batu loncatan sebelum akhirnya Islam juga yang
kita berlakukan.”
Tidakkah orang-orang tersebut membaca ayat Allah سبحانه و تعالى di
dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
هُدًى لِلنَّاسِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan
yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi
manusia.” (QS Al-Baqarah 185)
Jelas di dalam ayat di atas Allah سبحانه و تعالى sendiri mengatakan
bahwa Al-Qur’an merupakan
petunjuk bagi manusia. Allah tidak
membatasi Al-Qur’an sebagai petunjuk hanya bagi kaum muslimin. Kalau
Allah سبحانه و تعالى mengatakan ia merupakan petunjuk bagi manusia
berarti meliputi segenap manusia. Apakah ia orang Arab atau orang ‘Ajam
(orang non-Arab). Apakah ia muslim atau ia kafir. Semua termasuk
manusia. Artinya, Allah سبحانه و تعالى menjamin bahwa bila Al-Qur’an
diberlakukan sebagai platform masyarakat, maka ia akan sesuai untuk
semua fihak yang namanya komunitas manusia. Berbeda dengan kitab-kitab
Allah سبحانه و تعالى sebelumnya yang memang belum sempurna sehingga
belum dilegalisir untuk berlaku bagi segenap manusia. Taurat dan Injil,
misalnya. Kedua Kitabullah tersebut diwahyukan kepada Nabi Musa dan Nabi
Isa ‘alaihimas-salam. Tetapi Allah سبحانه و تعالى sendiri menegaskan
bahwa ia hanya berlaku bagi suatu kaum tertentu, yakni Bani Israel.
Bukan untuk segenap manusia.
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى
لِبَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan
kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel.” (QS Al-Isra 2)
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Isa as) Al Kitab, Hikmah,
Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel.” (QS Ali Imran
48-49)
Lalu di era modern ini ada sebagian orang berpendapat dengan prinsip
bahwa “agama Islam adalah untuk realitas.” Maka, dengan dalih ini mereka
berpendapat bahwa Islam perlu disesuaikan dengan perkembangan situasi
dan kondisi yang sudah jauh berkembang dan berbeda dari zaman Nabi
Muhammad صلى الله عليه و سلم dan para sahabat. Masyarakatpun telah
berubah dibandingkan dengan masyarakat saat Islam awal berkembang di
jazirah Arab limabelas abad yang lalu. Atas dasar perubahan realitas
inilah kemudian mereka memandang Islam sendiri perlu “disesuaikan”
dengan perubahan dan perkembangan tersebut. Artinya, mereka memandang
bahwa jika Islam ingin tetap
up to date dan diterima oleh
masyarakat modern, maka Islam harus ditampilkan dengan tampilan yang
berbeda. Alias mereka ingin beragama Islam yang bukan seperti Islam yang
dibawa dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم .
Akhirnya, alih-alih mereka mewujudkan realitas yang diarahkan oleh
Islam, malah mereka menerima dan membenarkan segenap realitas menyimpang
yang ada di sekitar dirinya. Bahkan mereka memberikan dalil ayat dan
hadits untuk melegitimasi realitas menyimpang tersebut. Inilah tafsiran
konyol mereka terhadap prinsip bahwa “agama Islam adalah untuk
realitas.” Sehingga tidak kurang seorang Sayyid Qutb menyoroti fenomena
ini di dalam kitab monumentalnya Ma’alim Fit-thoriq (Petunjuk Jalan).
Inilah petikannya:
Perkataan "agama itu adalah untuk kenyataan" telah salah
dimengerti dan juga telah salah dipergunakan. Tentu saja agama
ini adalah untuk kenyataan. Tetapi kenyataan yang mana?
Yaitu kenyataan yang timbul dari agama itu sendiri, sesuai dengan
metode-nya, sesuai dengan fitrah manusia semuanya. Memenuhi
kebutuhan manusia sesungguhnya dalam kese-luruhannya. Yaitu
kebutuhan-kebutuhan yang telah ditetapkan oleh Yang Menciptakan
dan Yang Mengetahui apa yang diciptakan-Nya.
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ
الْخَبِيرُ
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu
lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS
Al-Mulk 14)
Agama tidaklah menghadapi sembarang kenyataan saja, lalu
mengakuinya, dan mencari-carikan alasan baginya, atau
mencari-carikan hukum agama baginya seperti slogan-slogan yang
dipinjam. Agama menghadapi kenyataan, untuk ditimbanginya dengan
timbangannya ditetapkannya mana yang akan ditetapkannya,
dibatalkannya mana yang akan dibatalkannya, dan didirikannya suatu
kenyataan baru, seandainya kenyataan yang ada tidak
disenanginya, dan kenyataan yang diadakannya itulah yang
benar-benar kenyataan. Inilah pengertian kata-kata: Islam itu agama
kenyataan. Atau begitulah semestinya arti dalam pengertian yang
benar.
Barangkali di sini timbul pertanyaan :
"Bukankah kepentingan manusia yang seharusnya membentuk
kenyataannya ?"
Sekali lagi kita kembalikan pertanyaan yang telah dikemukakan
Islam dan telah dijawabnya sekaligus :
"Kamukah yang lebih tahu atau Allah ?"
"Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui".(QS Al-Baqarah
216)
Kepentingan manusia terkandung dalam hukum Allah,
sebagaimana yang telah diturunkan oleh Allah, sebagaimana yang
telah disampaikan kepada kita oleh RasulNya.
Kalau manusia pada suatu hari menyadari bahwa kepentingannya
adalah dalam menentang hukum Allah, maka keadaan mereka itu, adalah
sebagai berikut:
Pertama-tama, mereka itu hanya "berimajinasi" saja,
mengenai apa yang mereka sadari itu.
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى
الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ
رَبِّهِمُ الْهُدَى أَمْ لِلإنْسَانِ مَا تَمَنَّى
فَلِلَّهِ الآخِرَةُ وَالأولَى
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa
yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang
petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. Atau apakah manusia akan
mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah
kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” (QS An-Najm 23-25)
Kedua, karena mereka itu "orang-orang kafir". Seseorang
yang menyangka bahwa kebaikannya (maslahatnya) menurut
pendapatnya bertentangan dengan hukum Allah, tidak mungkin satu
detikpun tinggal dalam agama ini, dan termasuk ke dalam para pemeluk
agama ini. (Petunjuk Jalan-Media Da’wah cetakan VI 2000 hlm 160-163)
Saudaraku, tugas kita di dunia ini hanyalah beribadah dengan
memurnikan ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالى semata. Dalam upaya kita
beribadah menegakkan kalimah Allah سبحانه و تعالى terkadang Allah
سبحانه و تعالى mudahkan kita merubah realitas tapi tidak jarang Allah
سبحانه و تعالى tidak izinkan kita merubah realitas. Yang paling penting
adalah memastikan bahwa kita tetap beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى
baik realitas berhasil kita ubah maupun tidak. Jangan sampai demi
menyesuaikan diri dengan realitas lalu kita rela merubah dienullah. Yang
berarti kita rela untuk tidak lagi beribadah kepada Allah سبحانه و
تعالى dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya.
Na’udzubillahi min
dzaalika...!
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan
lurus.” (QS Al-Bayyinah 5)

Sungguh berat menegakkan sunnah Nabi صلى الله عليه و سلم di
era penuh fitnah seperti sekarang. Karena begitu banyak ajakan sesat
yang seringkali berbungkus ajaran Islam padahal sejatinya sudah bukan
Islam yang orisinal sebagaimana dibawa dan dicontohkan oleh Rasullah صلى
الله عليه و سلم. Sehingga kita harus waspada jangan sampai ikut-ikutan
dengan ajran sesat berbungkus ayat, hadits dan siroh Nabi صلى الله عليه و
سلم yang penggunaannya bukan untuk merubah realitas menyimpang yang
berlaku, malah menjustifikasinya.
Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri
petunjuk kepadanya. Ya Allah, janganlah Engkau masukkan kami ke dalam
golongan orang-orang yang berwudhu bahkan sholat namun iman dan islam
kami ditolak oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم tatkala kami berjumpa
dengannya di telaga al-haudh di hari berbangkit. Sebagaimana diterangkan
dalam hadits berikut:
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah صلى الله عليه و سلم pernah
mendatangi pekuburan lalu bersabda: "Semoga keselamatan terlimpahkah
atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah
kami akan bertemu kalian, " Sungguh aku sangat gembira seandainya kita
dapat melihat saudara-saudara kita." Para Sahabat bertanya, 'Tidakkah
kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab dengan
bersabda: "Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita
ialah mereka yang belum berwujud." Sahabat bertanya lagi, 'Bagaimana
kamu dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu
wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab dengan bersabda: "Apa pendapat
kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu
putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah
sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu?
' Para Sahabat menjawab, 'Sudah tentu wahai Rasulullah.' Beliau
bersabda lagi: 'Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka
putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga.
Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi dari datang ke telagaku
sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat'. Aku memanggil mereka,
'Kemarilah kamu semua'. Maka dikatakan, 'Sesungguhnya mereka telah
menukar ajaranmu selepas kamu wafat'. Maka aku bersabda: "Pergilah
jauh-jauh dari sini." (MUSLIM - 367) Shahih